Minggu, 27 September 2015......
Pagi itu begitu cerah, secerah semangat kami.Menggeliat hebat haus akan petualangan, bak lamunan yang penuh beribu angan. Renungan dalam dengan segudang pertanyaan, lalu tiba-tiba terhentak melesat mencari jawab. Menyusuri misteri yang banyak dicari dan dipelajari....
Pernahkah terbayangkan, kita bisa menjelajah dasar samudra dengan
begitu mudahnya? Kita bisa menelusuri hingga ke sela-sela batuan
terdalam, melihat dengan gamblang lava (magma) yang telah dimuntahkan
dari perut bumi, bahkan kita bisa mempelajari sampai kedalaman 300 km.
Dengan penuh rasa penasaran kami berangkat menyusuri Kawasan Geowisata
LIPI Karangsambung. Tak jauh dari kampus kami (SMK Negeri 1 Karanggayam)
tapi pesonanya tak kalah menakjubkan dengan tempat-tempat lain.
Petualangan kami kali ini sengaja sekalian mempelajari berbagai singkapan batuan yang katanya terlengkap di dunia. Pantas saja ribuan
ahli geologi pernah merasakan tempat yang dinamakan kawah candra
dimukanya mahasiswa geologi dari seluruh penjuru tanah air.
Di daerah Karangsambung inilah terhimpun
beraneka jenis batuan, berukuran kerikil hingga sebesar bukit, yang
berasal dari sejarah dan umur yang berbeda-beda. Batuan yang terhimpun
ini bercampur aduk sedemikian rupa oleh proses geologi selama kurun
waktu dalam skala jutaan tahun. Campur aduk batuan yang demikian rumit
itu diberi istilah “mélange”. Namun sesungguhnya, batuan itu berasal
dari kelompok batuan pembentuk lempeng benua dan pembentuk lempeng
samudera. Bahannya tentu saja berasal dari dalam perut bumi sendiri.
Bagaimana batuan lempeng samudera dan batuan lempeng benua bercampur
menjadi satu, dapat dijelaskan dengan teori tektonik lempeng.
Menurut teori tektonik lempeng, kulit
bumi tersusun oleh lempeng-lempeng yang bersifat mobile, bergerak satu
sama lain saling menjauh, berpapasan atau bertabrakan. Kecepatan
pergerakan lempeng ini diketahui rata-rata 10 cm per tahun. Bila dua
lempeng bertabrakan pada zona pertemuan dua lempeng, terjadi akumulasi
batuan berasal dari kedua belah pihak, batuan lempeng benua dan batuan
lempeng samudera. Bukti-bukti adanya pertemuan
antara lempeng benua dengan lempeng samudera, salah satu yang terkenal di dunia dapat kita jumpai di daerah Karangsambung itu.
antara lempeng benua dengan lempeng samudera, salah satu yang terkenal di dunia dapat kita jumpai di daerah Karangsambung itu.
MENJELAJAH KE LANTAI SAMUDERA PURBA
Nah, untuk menikmati pesona Karangsambung, kita perlu lebih dulu melafalkan “mantera” yang dilontarkan oleh Albert Heim (1849-1937), ahli geologi Swiss. Bunyi mantera itu, “Memandangi alam permai dengan mata yang mengandung pengertian, jauh lebih memberikan kesenangan dan kepuasan hati daripada hanya menyaksikan keelokannya.”
Nah, untuk menikmati pesona Karangsambung, kita perlu lebih dulu melafalkan “mantera” yang dilontarkan oleh Albert Heim (1849-1937), ahli geologi Swiss. Bunyi mantera itu, “Memandangi alam permai dengan mata yang mengandung pengertian, jauh lebih memberikan kesenangan dan kepuasan hati daripada hanya menyaksikan keelokannya.”
Ada banyak banget lokasi yang dapat kita pelajari broow...., tapi tidak sempat kami kunjungi semua.Dah penasaran kan....?? Oke, langsung saja kita ceritai tempat-tempat yang kita singgahi :
1. Bukit Jatibungkus
Lokasi ini berada sekitar 200 m ke arah timur dari jalan Karangsambung –
Kebumen.
Bukit Jatibungkus merupakan bongkahan raksasa batugamping terumbu berukuran sekitar 350 m x 150 m dengan tinggi 40 m. Batuan ini diendapkan pada lingkungan laut dangkal dam keterdapatannya pada lokasi ini kaibat proses pelengseran gaya berat. Pada bukit ini juga dijumpai gua-gua seperti Gua Langse di sebelah barat dan Gua Sikepul dan Gua Silodong di sebelah timur.
Bukit Jatibungkus merupakan bongkahan raksasa batugamping terumbu berukuran sekitar 350 m x 150 m dengan tinggi 40 m. Batuan ini diendapkan pada lingkungan laut dangkal dam keterdapatannya pada lokasi ini kaibat proses pelengseran gaya berat. Pada bukit ini juga dijumpai gua-gua seperti Gua Langse di sebelah barat dan Gua Sikepul dan Gua Silodong di sebelah timur.
2. Batugamping Nummulites
Sebongkah batugamping Nummulites tersingkap persis di depan Kampus LIPI. Batuannya berupa kumpulan keping - seukuran koin seratus rupiah - fosil foraminifera Nummulites. Fosil Nummulites menunjukkan batugamping ini berasal dari lingkungan laut dangkal pada 50 juta tahun yang lalu. Bongkahan ini ditafsirkan tercebur ke dalam lumpur pada palung laut, sebagaimana ditunjukkan oleh keberadaannya sekarang yang dikelilingi oleh batu lempung yang pernah menjadi bagian
Sebongkah batugamping Nummulites tersingkap persis di depan Kampus LIPI. Batuannya berupa kumpulan keping - seukuran koin seratus rupiah - fosil foraminifera Nummulites. Fosil Nummulites menunjukkan batugamping ini berasal dari lingkungan laut dangkal pada 50 juta tahun yang lalu. Bongkahan ini ditafsirkan tercebur ke dalam lumpur pada palung laut, sebagaimana ditunjukkan oleh keberadaannya sekarang yang dikelilingi oleh batu lempung yang pernah menjadi bagian
dari dasar laut dalam.
Contoh serupa ditunjukkan oleh bukit
batugamping yang lebih besar, yaitu bukit Jatibungkus. Bukit Jatibungkus
ini ‘ujug-ujug’ seperti muncul dan berada di tengah-tengah sawah.
Hamparan sawah ini dulunya adalah lumpur yang mendasari palung laut,
tempat bukit Jatibungkus itu terperosok dari bagian laut yang lebih
dangkal.
3. Gunung Parang
Lokasi bukit yang berjarak 600 meter di utara Kampus LIPI ini oleh masyarakat setempat disebut Gunung Wurung. Men
urut cerita turun-temurun di masyarakat di sekitar bukit itu, Gunung
Parang dibangun oleh para dewa. Gunung itu batal diselesaikan para dewa
karena “kepergok” gadis yang sedang mencuci beras di tepi Sungai Lok
Ulo. Wurung dalam bahasa jawa berarti batal. Menurut pengertian ilmu
geologi, Gunung Parang adalah sebuah intrusi, yaitu magma (bahan gunung
api) yang menerobos menuju ke permukaan namun keburu membeku sebelum
muncul ke permukaan untuk menjadi gunung api. Sejalan dengan waktu,b
tanah di atas intrusi ini tererosi, memunculkan Gunung Wurung. Kemiripan
cerita rakyat dengan ilmu geologi, Gunung Wurung adalah batuan intrusi
(yang batal menjadi gunung api).
4. Kali Mandala
Kali
Mandala merupakan salah satu anak sungai Kali Luk Ulo, dan mengalir ke
Sungai Luk Ulo mengikuti zona sesar / patahan berarah timurlaut –
baratdaya. Kali Mandala ini merupakan batas pemisah antara
batuan pra-tersier di sebelah utara dengan batuan tersier di sebelah selatan. Pada lokasi ini juga dapat dijumpai batuan beku basalt berupa lava bantal yang sudah mengalami breksiasi dan nampak rekahan-rekahan (joint).
batuan pra-tersier di sebelah utara dengan batuan tersier di sebelah selatan. Pada lokasi ini juga dapat dijumpai batuan beku basalt berupa lava bantal yang sudah mengalami breksiasi dan nampak rekahan-rekahan (joint).
5. Bukit Sipako
Sekitar
300 m ke arah utara tepatnya dari kaki bukit Sipako, terdapat singkapan
blok rijang-batugamping merah yang menunjukan kontak sesar dengan
fillit di bagian selatan dan dengan greywacke di bagian utara.
Pada
kaki bukit Sipako terdapat singkapan fillit-grafit yeng telah mengalami
perlipatan. Batuan ini diinterpretasikan sebagai produk selama proses
subduksi yang mentransfer sedimen palung ke dalam metamorfosa derajat
rendah. Singkapan ini telah mengalami deformasi lanjut yang ditunjukan
oleh sesar-sesar naik, jalur milonit, dan fault gouge.
Seharian berkutak-kutik dengan penyelaman tentang ilmu batuan, tak terasa peluh membasahi tubuh ini, mengingatkan kami akan jam makan siang. Tapi tenang dulu Guys..., perjalanan kami belum terhenti, darah rimba kami tetap menggelora. Sembari mencari tempat yang asyik buat maksi, kita lanjut perjalanan berburu pesona bukit Pentulu Indah. Ya, hamparan hutan pinus di desa Daka, Kecamatan Karangsambung, Kabupaten Kebumen ini menawarkan pesona menawan dan aman untuk ngecamp....
Sekian dan sampai jumpa di petualangan berikutnya guys...........
Oleh : Kuwat Pamuji














Tidak ada komentar:
Posting Komentar